Laporan Praktikum
Dasar sistem Telekomunikasi
PAM (Pulse Amplitude Modulation)
Disusun Oleh :
1.
Satria
Bagaskara (14050874007)
2.
Bagus
Rio Rynaldo (14050874016)
3.
Ahmad
Sulthoni (14050874025)
PROGRAM STUDI S1 TEKNIK ELEKTRO
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
PULSE AMPLITUDE MODULATION (PAM)
TUJUAN
Mengetahui bentuk
output keluaran sinyal PAM dan mengetahui pengaruh variasi frekuensi sinyal
pemodulasi dan sinyal pembawa terhadap output sinyal yang dihasilkan pada
modulator dan demodulator.
TEORI
Modulasi adalah
proses perubahan (varying) suatu gelombang periodik sehingga menjadikan suatu
sinyal mampu membawa suatu informasi. Dengan proses modulasi, suatu informasi
(biasanya berfrekeunsi rendah) bisa dimasukkan ke dalam suatu gelombang pembawa, biasanya
berupa gelombang sinusberfrekuensi tinggi. Terdapat tiga parameter kunci pada suatu gelombang
sinusiuodal yaitu : amplitudo, fase dan frekuensi. Ketiga parameter tersebut dapat dimodifikasi sesuai dengan sinyal
informasi (berfrekuensi rendah) untuk membentuk sinyal yang termodulasi.
Peralatan untuk
melaksanakan proses modulasi disebut modulator, sedangkan peralatan
untuk memperoleh informasi informasi awal (kebalikan dari dari proses modulasi)
disebut demodulator dan peralatan yang melaksanakan kedua
proses tersebut disebut modem.
Informasi
yang dikirim bisa berupa data analog maupun digital sehingga terdapat dua jenis
modulasi yaitu
·
Modulasi
analog
adalah
komunikasi yang mentransmisikan sinyal-sinyal analog yaitu time signal yang
berada pada nilai kontinu pada interval waktu yang terdefinisikan. Dalam
modulasi analog, proses modulasi merupakan respon atas informasi sinyal analog.
·
Modulasi
digital
adalah
suatu sinyal analog di modulasi berdsarkan aliran data digital. Modulasi
digital merupakan proses penumpangan sinyal digital (bit stream) ke dalam
sinyal carrier. Modulasi digital sebetulnya adalah proses mengubah-ubah
karakteristik dan sifat gelombang pembawa (carrier) sedemikian rupa sehingga
bentuk hasilnya (modulated carrier) memeiliki ciri-ciri dari bit-bit (0 atau 1)
yang dikandungnya. Teknik modulasi digital pada prinsipnya merupakan variant
dari metode modulasi analog.
Perbedaan
utama antara modulasi digital dan modulasi analog adalah
terletak pada bentuk sinyal informasinya. Pada modulasi analog, sinyal informasinya
berbentuk analog dan sinyal pembawanya analog. Sedangkan pada modulasi digital,
sinyal informasinya berbentuk digital dan sinyal pembawanya analog.Modulasi adalah proses pencampuran dua sinyal menjadi satu sinyal. Biasanya sinyal yang dicampur adalah sinyal berfrekuensi tinggi dan sinyal berfrekuensi rendah. Dengan memanfaatkan karakteristik masing-masing sinyal, maka modulasi dapat digunakan untuk mentransmisikan sinyal informasi pada daerah yang luas atau jauh. Sebagai contoh Sinyal informasi (suara, gambar, data), agar dapat dikirim ke tempat lain, sinyal tersebut harus ditumpangkan pada sinyal lain. Dalam konteks radio siaran, sinyal yang menumpang adalah sinyal suara, sedangkan yang ditumpangi adalah sinyal radio yang disebut sinyal pembawa (carrier). Jenis dan cara penumpangan sangat beragam. Yaitu untuk jenis penumpangan sinyal analog akan berbeda dengan sinyal digital. Penumpangan sinyal suara juga akan berbeda dengan penumpangan sinyal gambar, sinyal film, atau sinyal lain.
Tujuan Modulasi
·
Transmisi
menjadi efisien atau memudahkan pemancaran.
·
Masalah
perangkat keras menjadi lebih mudah.
·
Menekan
derau atau interferensi.
·
Untuk
memudahkan pengaturan alokasi frekuensi radio.
·
Untuk multiplexing,
proses penggabungan beberapa sinyal informasi untuk disalurkan secara
bersama-sama melalui satu kanal transmisi.
Fungsi Modulasi
Sinyal informasi biasanya memiliki
spektrum yang rendah dan rentan untuk tergangu oleh noise. Sedangakan pada
transmisi dibutuhkan sinyal yang memiliki spektrum tinggi dan dibutuhkan
modulasi untuk memindahkan posisi spektrum dari sinyal data, dari pita spektrum
yang rendah ke spektrum yang jauh lebih tinggi. Hal ini dilakukan pada
transmisi data tanpa kabel (dengan antena), dengan membesarnya data frekuensi
yang dikirim maka dimensi antenna yang digunakan akan mengecil.
Pada PAM, amplitudo pulsa-pulsa pembawa dimodulasi oleh sinyal pemodulasi.
Amplitudo pulsa-pulsa pembawa menjadi sebanding dengan amplitudo
sinyal pemodulasi. Semakin besar amplitudo sinyal pemodulasi maka semakin besar
pula amplitudo pulsa pembawa. Pembentukan sinyal termodulasi PAM dapat
dilakukan dengan melakukan pencuplikan (sampling), yaitu
mengalikan sinyal pencuplik dengan sinyal informasi. Proses ini akan menghasilkan pulsa
pada saat pencuplikan yang besarnya sesuai dengan sinyal informasi
(pemodulasi). Pada proses pemodulasian ini perlu diperhatikan bahwa kandungan
informasi pada sinyal pemodulasi tidakboleh berkurang. Hal ini dapat dilakukan
dengan persyaratan bahwa pencuplikan harus dilakukan dengan frekuensi minimal dua
kali frekuensi maksimum sinyal pemodulasi (2.fm), atau sering disebut dengan
syarat Nyquist. Jika frekuensisinyal pencuplik dinotasikan dengan fs dan
frekuensi maksimum sinyal pemodulasi dinotasikan dengan fm, maka syarat
Nyquist dapat ditulis sebagai:
Dimana : fs
= frekuensi sampling ( pencuplikan )
fm= frekuensi maksimum sinyal analog
Jika frekuensi sampling lebih rendah dari dua kali frekuensi maksimum
sinyal input analog maka terjadi overlap (tumpang tindih).
Dalam praktiknya pada
komunikasi digital, sinyal PAM kurang disukai karena bentuk karakteristik
sinyalnya menyebabkan sinyal ini tidak tahan terhadap error karena faktor
kekontinuitasanya.
GAMBAR RANGKAIAN
Rangkaian
1
Gambar 2. Modulator PAM (Rangkaian 1)
ANALISIS
Berikut ini adalah skema terbentuknya sinyal PAM (Pulse
Amplitude Modulation) :
Gambar 1
Dari skema diatas dapat kami jelaskan bahwa PAM (Pulse
Amplitude Modulation) itu dihasilkan oleh dua sinyal yang disatukan atau
dimodulasi, yaitu sinyal dengan Frekuensi Rendah atau biasa disebut dengan
sinyal Informasi dan Sinyal Frekuensi tinggi atau Sinyal Carier. Sinyal
Informasi (Fm) dan sinyal Carrier (Fc) akan dimodulasi oleh sebuah alat yang
disebuat MODULATOR sehingga akan menghasilkan sebuah sinyal baru yang unik.
Dibawah ini adalah Rangkaian dari sebuah Modulator :
Gambar 2
Dari rangkaian Modulator yang kami buat diatas kami
memperoleh data-data sebagai hasil dari uji coba menggunakan software Multisim.
Ada beberapa variasi dari nilai inputinformasi dan sinyal carier yang kami masukkan
dalam uji coba ini dan hasil dari sinyal outputnya pun berbeda-beda setelah
kami melakukan variasi tersebut (lihat gambar dibawah). Untuk membuat sinyal
PAM (Pulse Amlitude Modulation) yang sesuai dengan Gambar 1 diatas mempunyai
syarat tertentu, yaitu Frekuensi sinyal carrier (Fc) haris dua kali lebih besar
daripada sinyal informasi (Fm) atau biasa disebut Sampling (mengubahsinyalyang tadinyaberupasinyalkontinyumenjadisinyaldiskrit/bit bit digital) , yang ditulis sebagai berikut :
(Fc>>2.Fm)
Dari data hasil simulasi yang diperolehterlihatbahwaAmplitudo
pulsa pembawa menjadi sebanding denganamplitudo sinyal pemodulasi, yang maksutnyaadalahPulsa
yang terkirimbergantungpada amplitude sinyalpemodulasi(informasi).Dan juga
apabila semakin Besar frekuensi dari sinyal carrier maka sinyal outputnya akan
semakin bagus pula. Dari simulasi yang kami lakukan Pulsa sinyal akan sempurna
dan bagus jika sesuai syarat yaitu Fc>>2.Fmyaitu padain 2vpp 100hz carier 4vpp 600hz dan in 2vpp600Hz carier4vpp3.9
kHz. Sedangakan pada in
4vpp 100hz carier 2vpp 600hz sinyalnya tidak sesuai dengan output sinyal PAM .
Menurut Teori Nyquistbila frekuensi
sampling/carrier lebih kecil dar frekuensi informasi/sumber maka akan terjadi
penumpukan frekuensi (Aliasing).
Pulsa yang
diterima merupakan perpaduan antara sinyal informasi dan sinyal carier. Rangkaian PAM memiliki kelebihanya itu mudah dalam membaca data
yang terkirim, selain memiliki kelebihan rangakaian PAM juga memiliki kelemahan
yaitu data yang terkirim tidak sempurna jika terjadi gangguan pada amplitude
sinyal informasi. Gangguan tersebut biasanya terdapat pada jarak jangkauan pengiriman sinyal yang
disebabkan cuaca ataupun gangguan dari sinyal lainnya.
Apabila frekuensi
dari sinyal carier lebih kecil dari sinyal
informasi maka data yang terkirim juga akan sulit untuk dianalisa,
karena tidak semua sinyal carier terkirimkan atau dapat dikatakan terdapat beberapa sinyal yang hilang. Hal tersebut mengakibatkan
data yang diterima tidak utuh lagi atau cacat. Jika frekuensi sinyal carier lebih besar dari sinyal informasi maka akan terjadi
miss yang dikarenakan level bandwidth yang terlalu besaruntuk di transmisikan atau dikirimkan.
Kesimpulan :
1. Pada PAM, gelombang carrier yang digunakan adalah
gelombang kotak (digital) yang akan digunakan sebagai sinyal sampling (mengubahrepresentasisinyalyang
tadinyaberupasinyalkontinyumenjadisinyaldiskrit/bit bit digital).
2. Gelombang output merupakan hasil sampling dari gelombang
informasi, sehingga level tegangan sinyal sampling akan mengikuti amplitudo
sinyal informasi.
3. Semakin tinggi frekuensi sinyal sampling, maka akan
semakin bagus dan presisi output yang dihasilkan.
4. Pada Demudulator sinyal akan dikembalikan seperti sinyal
Aslinya atau sinyal informasinya.Rangkaian Demodulator akan kita pasangkan pada
output sinyal Modulator. Demodulator ini hanya terdiri dari Potensiometer dan
Capasitor. Walaupun sinyal output dari
Demodulator ini belum membentuk sinyal informasi yang sempurna tetapi
sinyal output demodulator ini sudah menyerupai sinyal Informasi yaitu berupa
gelombang sinus.
Jika Potensiometer kita besarkan nilai resistansinya maka
akan berpengaruh pada tinggi tegangan Peak to peak.nya( Vpp), semakin besar
nilai dari Potensiometer maka nilai Vpp akan semakin rendah. Dan sebaliknya
jika nilai resistansi Potensiometer rendah maka Vpp akan semakin besar.
Sedangkan Kapasitor sendiri digunakan sebagai penghalus Sinyal sinus, juka
nilai kapasitansi kapasitor semakin besar maka sinyal outputnya akan semakin
halus dan apabila nilai kapasitansi kapasitor semakin kecil maka sinyal output
akan semakin kasar.
Kesimpulan dari Demodulator :
1. Nilai resistansi pada Potensiometer berpengaruh pada Vpp
(tegangan peak to peak) dari sinyal sinus.
2. Nilai kapasitansi dari Kapasitor berpengaruh pada halus
kasarnya dari sinyal sinus.
Gambar Sinyal informasi dan Sinyal carrier
( padain
2vpp 100hz carier 4vpp 600hz dan in 2vpp600Hz
carier 2vpp 3.9 kHz )
Gambar tampilan sinyal Modulasi
(padain
2vpp 100hz carier 4vpp 600hz dan in 2vpp600Hz
carier 2vpp 3.9 kHz)
Gambar tampilan Sinyal Informasi dan Sinyal Carrier
( 4vpp 100hz carier 2vpp 600hz )
Gambar Tampilan Sinyal Modulasi
( 4vpp 100hz carier 2vpp 600hz )
Gambar output Demodulator
( Potensiometer 22k )
Gambar output Demodulator
( Potensiometer 10k )
Gambar Output Demodulator ( Kapasitor 0,01uF dan
Potensio 22k )
Gambar Output Demodulator ( Kapasitor 1uF dan
Potensio 22k )